Scroll untuk baca artikel
Gambar
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
previous arrow
next arrow
Gambar
Sula

Aduan Istri Berujung DPK, ASN Kemenag Sula Tunggu Sanksi

4
×

Aduan Istri Berujung DPK, ASN Kemenag Sula Tunggu Sanksi

Sebarkan artikel ini
Plt. Kepala Kemenag Kabupaten Kepulauan Sula, Samsuddin Fatahuddin. (Istimewa)

SANANA- Kasus dugaan penelantaran anak dan istri yang dilaporkan terhadap oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sula berinisial WF alias Wahab masih bergulir.

Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kepulauan Sula, Samsuddin Fatahuddin, mengatakan aduan yang disampaikan istri WF, Hindun Soamole, telah diteruskan ke Kementerian Agama Republik Indonesia.

Gambar

Menurut Samsuddin, proses selanjutnya tinggal menunggu penjadwalan sidang Dewan Pertimbangan Kepegawaian (DPK) untuk menentukan jenis hukuman terhadap ASN yang bersangkutan.

“Sudah diteruskan ke Pusat, selanjutnya menunggu penjadwalan sidang DPK, untuk menentukan jenis hukuman yang akan dijatuhkan kepada ASN yang bersangkutan,” kata Samsuddin kepada media ini, Rabu (16/9/2026).

Sebelumnya, Kemenag Kepulauan Sula menerima aduan dari Hindun Soamole terkait dugaan penelantaran anak dan istri yang diduga dilakukan WF. Terlapor diketahui merupakan ASN di lingkungan Kemenag Kepulauan Sula.

Aduan tersebut kemudian diteruskan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Maluku Utara, sebelum selanjutnya disampaikan ke Kemenag RI untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

Samsuddin menjelaskan, setelah DPK menentukan jenis hukuman, hasil keputusan tersebut akan disampaikan kepada pejabat yang berwenang untuk menjatuhkan hukuman sesuai tingkatannya.

“Kalau jenis hukuman ringan, kewenangan ada di atasan langsung sampai dengan pimpinan unit kerja,” tutur Samsuddin.

Namun, apabila hasil pemeriksaan dan sidang DPK merekomendasikan hukuman berat hingga pemberhentian sebagai ASN, kewenangan penjatuhan hukuman berada pada Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK).

“Kalau jenis hukuman yang diputuskan oleh DPK adalah hukuman berat sampai dengan pemberhentian, maka itu menjadi kewenangan Pejabat Pembina Kepegawaian, dalam hal ini Menteri,” tandasnya. (di)

Example 300250
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
previous arrow
next arrow
Gambar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *