Prolog
Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj, perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Di Kepulauan Sula, seperti di banyak daerah lain di Indonesia, peringatan ini sering diisi dengan acara seremonial seperti zikir bersama, ceramah agama, dan doa bersama di masjid-masjid. Namun, apakah perayaan ini sekadar rutinitas tahunan, atau bisa menjadi momentum transformasi sosial dan spiritual bagi masyarakat?
Dari Seremoni ke Substansi
Seremoni dalam peringatan Isra’ dan Mi’raj tentu memiliki nilai positif, seperti memperkuat ukhuwah Islamiyah dan meneguhkan kecintaan kepada Nabi. Namun, jika hanya berhenti pada perayaan simbolik, maka esensi peristiwa ini bisa terabaikan. Isra’ dan Mi’raj adalah tentang perjalanan transformatif—baik secara spiritual maupun sosial. Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengalami perjalanan fisik, tetapi juga membawa pesan perubahan bagi umatnya.
Bagi masyarakat Kepulauan Sula, peringatan Isra’ dan Mi’raj seharusnya menjadi titik refleksi: bagaimana membangun masyarakat yang lebih religius, adil, dan berdaya? Dengan melihat bagaimana Nabi menghadapi tantangan dakwah dan membangun peradaban, masyarakat bisa belajar tentang pentingnya kepemimpinan yang visioner, keberanian dalam menghadapi tantangan, dan keteguhan dalam membangun perubahan.
Momentum Transformasi Sosial
Dalam konteks Pilkada Kepulauan Sula 2024, peristiwa Isra’ dan Mi’raj dapat menjadi inspirasi bagi pemimpin dan masyarakat. Jika Isra’ mengajarkan tentang perjalanan dan perjuangan, maka Mi’raj menggambarkan visi yang lebih tinggi. Pemimpin yang akan terpilih harus mampu membawa Sula dari sekadar perjalanan pembangunan fisik menuju peningkatan kesejahteraan yang lebih bermakna bagi rakyatnya.
Isra’ dan Mi’raj sebagai momentum
Merefleksikan Kualitas Pemimpin: Pemimpin yang baik harus memiliki visi jangka panjang, keberanian mengambil keputusan sulit, serta keberpihakan pada kesejahteraan masyarakat.
Menghidupkan Semangat Perubahan: Masyarakat harus aktif dalam membangun daerah, tidak hanya menunggu janji-janji politik.
Meningkatkan Kesadaran Sosial: Spirit Isra’ dan Mi’raj harus mendorong solidaritas, pendidikan, dan kesadaran terhadap tantangan lokal seperti ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur.
Catatan Epilog
Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi sebuah momentum reflektif bagi masyarakat Kepulauan Sula untuk bertransformasi. Baik dalam aspek spiritual maupun sosial, peringatan ini bisa menjadi pemicu perubahan menuju masyarakat yang lebih religius, berdaya, dan visioner. Kini, pertanyaannya: apakah kita hanya akan memperingati, atau benar-benar mengambil hikmahnya untuk membangun masa depan Sula yang lebih baik ?







































