Scroll untuk baca artikel
[smartslider4 slider="4"]
Gambar
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
2025080814130100
previous arrow
next arrow
Gambar
Sula

Mohtar Umasugi Tuliskan Surat Terbuka untuk Ketua Umum PP HPMS Terpilih Iqbal Ruray

149
×

Mohtar Umasugi Tuliskan Surat Terbuka untuk Ketua Umum PP HPMS Terpilih Iqbal Ruray

Sebarkan artikel ini
Ketua Umum PP HPMS Terpilih, Iqbal Ruray. (istimewa)

Surat Terbuka

Kepada Yth

Drs. Hi. Ikbal Rurai, MBA (Ketua Umum /Formatur Terpilih )

Pengurus Pusat HPMS

Di-

Ternate.-

Assalamualaikum wr, wb.

Surat terbuka ini saya tulis sebagai bentuk kegelisahan sekaligus tanggung jawab moral saya sebagai bagian dari keluarga besar HPMS. Kegelisahan ini tidak lahir dari sikap antipati terhadap proses kongres, melainkan dari keprihatinan mendalam atas dinamika pasca-kongres yang kini bergulir di ruang publik—baik melalui komentar personal maupun pemberitaan di berbagai media lokal dan regional.

Dalam beberapa hari terakhir, yang mengemuka justru bukan narasi pendewasaan organisasi, melainkan saling menyalahkan, saling menegasikan, dan kecenderungan mempertontonkan egoisme kelompok. Perbedaan pandangan yang sejatinya wajar dan bahkan sehat dalam demokrasi organisasi, sayangnya, lebih sering ditampilkan sebagai konflik terbuka yang miskin kebijaksanaan.

Yang lebih meresahkan, perbedaan itu tidak lagi diletakkan dalam bingkai gagasan dan arah perjuangan organisasi, tetapi mulai ditarik ke dalam tafsir politik praktis. HPMS seakan dibaca dan diperlakukan layaknya arena perebutan kepentingan, bukan sebagai paguyuban mahasiswa yang berdiri di atas nilai persaudaraan, intelektualitas, dan pengabdian daerah.

Kecenderungan munculnya kelompok-kelompok kepentingan dalam tubuh HPMS adalah sinyal serius yang tidak boleh diabaikan. Jika organisasi ini mulai dikelola dengan logika “siapa menang dan siapa kalah”, maka yang sesungguhnya kalah adalah HPMS itu sendiri. Organisasi mahasiswa tidak boleh terjebak pada watak eksklusif, apalagi terfragmentasi oleh kepentingan jangka pendek yang menggerus tujuan kolektif.

Dalam konteks inilah, posisi Ketua Umum/Formatur Terpilih menjadi sangat strategis dan menentukan. Pak Ketua bukan hanya pemegang mandat struktural hasil forum, tetapi juga pemikul tanggung jawab etik untuk merawat persatuan, meneduhkan perbedaan, dan menghentikan narasi saling menyudutkan yang kian liar di ruang publik. Kepemimpinan hari ini dituntut bukan sekadar sah secara prosedural, tetapi juga matang secara moral.

HPMS bukan partai politik, bukan pula kendaraan kelompok tertentu. Ia adalah rumah bersama mahasiswa Sula ( Sulabesi, Mangoli dan Taliabu). Rumah yang seharusnya menjunjung musyawarah, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan organisasi di atas ambisi personal maupun kelompok. Jika rumah ini retak karena ego dan kepentingan, maka sejarah akan mencatat kegagalan kita semua—bukan hanya satu generasi kepengurusan.

Saya berharap Ketua Umum/Formatur Terpilih dapat mengambil peran pemersatu, membuka ruang rekonsiliasi yang jujur, serta mengajak seluruh elemen HPMS kembali pada orientasi nilai dan tujuan awal organisasi. Bukan dengan retorika simbolik, tetapi melalui sikap adil, komunikasi terbuka, dan keputusan yang mencerminkan kebesaran jiwa.

Surat terbuka ini saya sampaikan bukan menggurui tetapi sebagai pengingat sekaligus harapan: bahwa HPMS hanya akan tumbuh besar jika dikelola dengan kebijaksanaan, bukan dengan ego; dirawat dengan kesadaran kolektif, bukan dikendalikan oleh kepentingan sempit.

Semoga kegelisahan ini dibaca sebagai bentuk cinta pada organisasi, bukan sebagai penolakan terhadap kepemimpinan.

Billahi Taufiq Walhidayah, ws, wb.

Mohtar Umasugi.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *