Oleh: Mohtar Umasugi.
Pada hari Selasa, 21 Juli 2026, sekitar pukul 12.45 WIT, saya menerima pesan WhatsApp dari Bapak Adnan Husein, atau yang akrab disapa Ko Nan. Pesan tersebut berisi beberapa foto hasil pemasangan tiga titik sumur bor di Desa Waisakai yang telah selesai dikerjakan dan mulai beroperasi. Bersamaan dengan foto-foto itu, Ko Nan menuliskan kalimat yang sederhana namun begitu menyentuh hati.
“Assalamualaikum. Alhamdulillah ya Allah ya Rabb… 3 sumur so mulai operasi untuk masyarakat. Bismillah jadi berkah. Aamiin.” Membaca pesan tersebut, pikiran saya langsung kembali pada musibah banjir bandang yang melanda Desa Waisakai pada 12 Maret 2026, bertepatan dengan malam ke 21 bulan suci Ramadhan. Bencana itu tidak hanya merusak rumah dan berbagai fasilitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan persoalan serius terhadap ketersediaan air bersih. Karena itu, kabar bahwa tiga titik sumur bor telah berfungsi bukan sekadar informasi biasa, melainkan kabar yang menghadirkan harapan bagi masyarakat yang selama beberapa bulan terakhir merasakan sulitnya memperoleh air bersih.
Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda. Tanpa air, aktivitas rumah tangga, ibadah, kesehatan, dan kehidupan sehari-hari akan terganggu. Oleh karena itu, pembangunan tiga titik sumur bor oleh Bapak Adnan Husein (Ko Nan) beserta keluarga adalah bentuk kepedulian yang sangat tepat sasaran. Bantuan ini bukan hanya menjawab kebutuhan sesaat, tetapi menghadirkan solusi jangka panjang yang manfaatnya akan terus dirasakan oleh masyarakat Desa Waisakai.
Dalam perspektif pembangunan masyarakat, kepedulian seperti ini memiliki makna yang sangat besar. Keberhasilan membangun sebuah daerah tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga ditentukan oleh partisipasi masyarakat dan para dermawan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Ketika seseorang menggunakan rezeki yang dimilikinya untuk menyelesaikan persoalan publik, sesungguhnya ia sedang memperkuat solidaritas sosial dan memperkokoh semangat gotong royong yang menjadi identitas bangsa Indonesia.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Robert Putnam tentang modal sosial (social capital), bahwa kekuatan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari besarnya sumber daya ekonomi, tetapi juga dari tingkat kepercayaan, kepedulian, dan kerja sama antarsesama. Kepedulian Ko Nan dan keluarga menjadi contoh nyata bagaimana modal sosial bekerja dalam kehidupan masyarakat. Bantuan yang diberikan bukan hanya menghasilkan infrastruktur berupa sumur bor, tetapi juga menumbuhkan optimisme, rasa persaudaraan, dan keyakinan bahwa masih banyak orang yang peduli terhadap penderitaan sesama.
Dalam perspektif Islam, penyediaan air bersih merupakan salah satu amal yang memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi. Air adalah sumber kehidupan. Melalui air, manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, menjaga kesehatan, bersuci, dan melaksanakan ibadah. Oleh sebab itu, setiap tetes air yang mengalir dari tiga sumur bor tersebut, setiap orang yang meminumnya, menggunakannya untuk berwudu, memasak, maupun memenuhi kebutuhan rumah tangga, insya Allah akan menjadi pahala yang terus mengalir bagi mereka yang dengan ikhlas menghadirkan manfaat tersebut. Inilah yang dikenal sebagai amal jariyah, yakni amal yang pahalanya terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain.
Saya berharap kepedulian seperti yang ditunjukkan Bapak Adnan Husein (Ko Nan) beserta keluarga dapat menginspirasi banyak pihak, terutama putra-putri daerah yang diberikan kelebihan rezeki oleh Allah SWT. Membangun daerah tidak selalu harus melalui jabatan atau kekuasaan. Terkadang, membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat justru menjadi bentuk pengabdian yang paling dirasakan manfaatnya. Ketika semakin banyak orang berlomba-lomba berbuat baik, maka semakin kuat pula ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Atas nama masyarakat Desa Waisakai, saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Adnan Husein (Ko Nan) beserta keluarga atas sumbangan sukarela pembangunan tiga titik sumur bor bagi masyarakat Desa Waisakai. Semoga bantuan yang sangat mulia ini menjadi sumber manfaat yang terus mengalir, menjadi penyambung harapan bagi masyarakat yang membutuhkan, serta dicatat oleh Allah SWT sebagai amal jariyah yang pahalanya tidak pernah terputus. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, rezeki yang berlimpah, serta membalas seluruh kebaikan Bapak Adnan Husein (Ko Nan) dan keluarga dengan balasan yang berlipat ganda. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin’.
Kepedulian sejati tidak selalu diukur dari besarnya nilai yang diberikan, tetapi dari besarnya manfaat yang dirasakan oleh mereka yang membutuhkan. Tiga sumur bor di Desa Waisakai akan menjadi saksi bahwa ketika kepedulian bertemu dengan keikhlasan, maka lahirlah mata air harapan yang akan terus mengalir, bukan hanya membawa air bagi kehidupan, tetapi juga mengalirkan pahala yang tiada henti di sisi Allah SWT.
Semoga tulisan ini menjadi bentuk penghargaan yang layak atas kepedulian Ko Nan dan keluarga, sekaligus menginspirasi semakin banyak pihak untuk berbagi manfaat bagi masyarakat.**







































