Detiksula.com– Syafrudin Sapsuha, putra asli Kabupaten Kepulauan Sula berhasil meraih gelar doktor program studi Bidang Ilmu Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Senin, 24 November 2025.
Dalam disertasinya, Syafrudin Sapsuha mengambil judul ‘Pengaruh Pengetahuan dan Budaya Gotong Royong melalui Sikap Terhadap Perilaku Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata Mangrove’.
Syafrudin Sapsuha mengikuti ujian promosi doktor di Gedung Pascasarjana (Gedung Bung Hatta Lt. 5) Kampus UNJ pada pukul 09.00-10.30 Wib pagi, dan dinyatakan lulus setelah berhasil mempertahankan disertasinya.
Kelayakan disertasi Syafrudin Sapsuha diuji oleh 7 orang Dewan Penguji. Ujian Promosi doktor dipimpin oleh Ketua Prof. Dr. Dedi Purwana ES, M.Bus. Sekretaris Prof. Dr. Henita Rahmayanti, M.Si. dengan anggota: Prof. Dr. Hafid Abbas. (Promotor), Prof. Dr. Agung Purwanto, M.Si. (Kopromotor), Prof. Dr. Ir. Bagus Sumargo. M.Si (Anggota), Dr. Muhammad Faesal, M.H., M.Pd. (Anggota), Dr. Rusman Rasyid, S.Pd., M.Pd (Penguji Luar).
Dalam presentasinya, Syafrudin Sapsuha menyampaikan bahwa Indonesia dengan garis pantai sepanjang 108.000 kilo meter, merupakan suatu realitas kewilayahan yang menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia serta menunjukkan besarnya potensi bahari yang dimiliki bangsa Indonesia.
Salah satu pilar pembangunan lingkungan dalam Sustainable Development Goals (SDG) tahun 2030 mendatang yaitu ekosistem laut dengan tujuan melestarikan dan memanfaatkan ekosistem laut, dan sumber daya laut untuk pembangunan berkelanjutan.
Mestinya kebijakan pembangunan wilayah pesisir didasarkan pada pemikiran bahwa wilayah pesisir dan laut secara ekologis maupun ekonomis sangat potensial untuk dimanfaatkan dan dikembangkan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, kerusakan lingkungan di wilayah pesisir Indonesia sampai saat ini belum bisa tertangani secara optimal.
Peta Mangrove Nasional 2013-2019, sebagai gambaran atas kondisi ekosistem mangrove berupa sebaran mangrove dan potensi habitat mangrove, menyajikan kondisi luas tutupan mangrove di Indonesia secara keseluruhan yaitu 3,31 Juta ha.
Berdasarkan data tersebut total hutan mangrove dengan kondisi kritis seluas 637.624 ha atau 19% dari total luas hutan mangrove di Indonesia.
Cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi laju degradasi mangrove, salah satunya adalah mengubah paradigma berpikir tentang manfaat mangrove menjadi lokasi ekowisata berbasis masyarakat. Konsep ekowisata berbasis masyarakat dan upaya pengembangannya dapat menjadi jawaban atas tantangan pengembangan aktivitas wisata di kawasan konservasi. Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif masyarakat lokal.
Pembangunan harus mengoptimalkan kekuatan dari masyarakat. Masyarakat setempat harus terlibat secara aktif dan berperan dalam kegiatan kegiatan pengembangan sumber daya lokal yang pada akhirnya manfaatnya benar-benar dinikmati. Aktif di sini berarti ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan untuk perencanaan, pelaksanaan, menikmati hasil, dan evaluasi atau pengawasan.
Berdasarkan uraian di atas, terungkap bahwa Indonesia dengan luas wilayah yang didominasi laut menyimpan potensi bahari yang besar, tetapi kerusakan lingkungan di wilayah pesisir belum bisa tertangani secara optimal serta hutan mangrove terus tergerus dan terdegradasi karena mengalami eksploitasi.
Kondisi ini membutuhkan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan lingkungan pesisir termasuk ekosistem mangrove untuk mendukung kehidupan yang berkelanjutan.
Beberapa hasil penelitian dari disertasi Syafrudin Sapsuha yang telah dilakukan sebelumnya juga memberi pemahaman tentang peran partisipasi dan serangkaian variabel atau faktor faktor yang mempengaruhinya dalam beberapa objek, sehingga ada kemungkinan untuk melihat serangkaian faktor latar belakang yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung dengan objek yang berbeda yaitu terhadap perilaku partisipasi dalam pengembangan ekowisata mangrove.
Dengan demikian, penelitian ini mengeksplorasi beberapa faktor latar belakang (background factors) yang relevan mempengaruhi perilaku partisipasi masyarakat setempat, baik langsung maupun tidak langsung dalam pengembangan ekowisata mangrove, yaitu penelitian tentang pengaruh pengetahuan dan budaya gotong royong melalui sikap terhadap perilaku partisipasi masyarakat dalam pengembangan ekowisata mangrove.


























